0

The Ex File


I got a message in my cellphone.
Dari seorang teman... okay, I won't lie to you... it was from my ex.

He was my second boyfriend. Teman satu divisi tapi beda cabang. He's in Jakarta and I'm in London. Okay, I won't lie to you again... :) Saya di Surabaya, lah. Where else?

It was such a short story, by the way. We met, we fell in love, and several months later, I just knew that he already had a girl friend and about to marry her in a year. I still remember. It was October 17th 2004 when I found out his dirty secret *it's dirty, isn't it?* and asked for goodbye. Dia selalu bilang, belum tentu juga bakal berjodoh dengan perempuan itu... well, helloooww... Gimana saya juga bisa tahu kamu jodoh saya atau bukan? Meanwhile I was waiting for you and then... you would say, "Sorry, La... kayaknya gue bakal bener-bener menikah sama cewek gue..." Gila kan?

I was sane enough to make that decision. Meskipun dia selalu bilang, "at least, give us a try..."
Halah! 'Give us a try'... give US a try... US?? Apa maksud kamu dengan bilang "US"? Tidak ada 'US', yang ada adalah saya seperti perempuan nggak bener yang ngerebut pacar orang! And by US is you and her. Bukan kamu dengan saya...

We were totally separated on November 2004, but we're still having a great relationship as friends... til now.

Once, saya liburan ke Jakarta dan mengadakan reuni kecil-kecilan dengan rekan-rekan HRD & GA kantor pusat. Kenapa dibilang reuni? Karena di antara enam orang (lima di Jakarta dan saya sendirian di Surabaya), hanya tinggal saya dan Inang saja yang masih belum beredar ke mana-mana. Di situlah pertama kali kami ngumpul dalam formasi lengkap. And when I say "formasi lengkap", itu bukan saja berarti kami berenam ngumpul semua... tapi... lengkap dengan pasangan... suami.. istri.. anak-anak..

..ya.
Termasuk istrinya.

That was the first time I met his wife. Perempuan yang tidak cantik, tapi saya tahu, dia sangat sangat baik dan ramah. I knew it then... dari caranya tersenyum, tertawa, bercanda, bertutur kata... Damn! Saya ngerasa sedih sekali karena dulu sempat 'berselingkuh' dengan kekasihnya meskipun saya nggak pernah tahu..

Eniwei,
Hubungan saya dengan si EX ini tidak pernah berubah. Yang berubah hanyalah dia sudah nggak bisa lagi mencium dan memeluk saya; we just keep on calling each other setiap saat ingin cerita. Kami tetap saling mengirim kabar lewat email. Ketemuan kalau sempat. Dan ya, SMS-an.

I never thought that a simple message from him could ruin the day.
I always thought that after four years, saya sudah bisa menghilangkan perasaan sakit hati saya.
Dan segala sms, email, atau telepon darinya adalah tanda bahwa saya sudah memaafkannya.

Tapi saya salah.
Karena ketika saya menerima SMS-nya pagi tadi,
saya tahu.... saya ingat... kalau saya pernah sakit hati karena dia...
dan luka itu, belum hilang.

Hm... tau apa isi SMSnya?
With gladly, he said... "Thanks God... our baby daughter is born this morning..."
...and several details, yang membuat saya merasa sangat, sangat bitchy dan baru bisa membalas sms-nya, malam ini.

"You must be very happy..."

...and I'm sorry, it will take a little more time to make me feel the same thing for you. Don't wait, coz maybe, a lot more time...

0 komentar: