Showing posts with label past. Show all posts
Showing posts with label past. Show all posts
1

while on my way...

Tadi pagi, turun dari sedan hijau Bro dan melangkahkan kaki ke kantor. Entah kenapa, all the sudden, saya kehilangan seluruh energi untuk tersenyum dan merasa kedua mata saya panas. Sungguh, saya nggak tahu kenapa. Sungguh, saya nggak mengerti juga kenapa tiba-tiba sebuah rasa yang sudah sangat lama tak terasa, pagi ini seperti mengejek saya.

Iya.
Made fun on me.
Made jokes about the fact that I am still having this thought for a guy... okay, not just a guy, but a total bastard, who came in to my life and ruined everything.

Sungguh, bukan kemauan saya untuk terus mengingat dia.
Sungguh, bukan pula saya menginginkan dia untuk terus mengacak-acak pikiran saya dan membuat saya tak kunjung berhenti memakinya, menghadiahinya sumpah serapah dalam hati, dan mengutuknya kalau bisa.

Saya benar-benar ingin melemparkan dia, keluar dari dalam hati saya.
Karena while I'm on my way to the office,
di antara langkah-langkah kaki yang seolah tak berenergi..

I just miss him.
merindukan dia yang setahun kemarin membuat saya bahagia...

(damn you, Fe! I hate you for messing my life and not giving me your goodbye!)
0

Lifetime Addiction

Saat saya bicara soal adiksi saya terhadap same flavor of cappucino, or how addicted I am with some several songs... dan banyak hal lain yang membuat saya sempat berpikir: Gua ini mencandu terlalu hebat, atau emang dasarnya weirdo?

Titi, sahabat saya, bilang, "Ah ini bukan addiction... it's just consistency."

OK. Konsisten.
Tapi tiba-tiba di kesempatan yang lain, dia malah cerita tentang Ray, seseorang di masa lalu saya, my highschool sweetheart, yang dia sebut sebagai: your lifetime addiction.

Alias: adiksi seumur hidup.

Huah... serem banget ya?
Tapi hmm....
saya rasa sih, when it comes to Ray and my feelings for him in the past, ini tidak ada sangkut pautnya dengan kecanduan atau konsistensi. Kamu tahu apa yang paling tepat? Namanya: penasaran!
Iya. PENASARAN!

Kabarnya gimana...
Sudah kayak apa sekarang...
Akhirnya rela jadi suami perempuan mana...
Kenapa dia milih perempuan itu...
Dulu nyadar nggak kalau saya ini seneng banget sama dia...
Dulu ngerti nggak kalau saya malu-malu nggak jelas itu karena saya madly in love about him!

Just that feeling.
Bukan adiksi. Bukan konsistensi.
Tapi rasa penasaran...

well... mungkin titi benar.
It's an addiction; sebuah adiksi untuk mengetahui where he is now and what would life be if I met him again... :)

(hey, Ray! Bersahabat dengan internet dong, biar aku bisa dengan mudahnya nyariin kamu... hehe)